04 Desember 2020   07:33 WIB

DPK Blora Juara Nasional Video Cerita Dampak Dari Perpusnas RI

DPK Blora Juara Nasional Video Cerita Dampak Dari Perpusnas RI

DPK Blora Juara Nasional Video Cerita Dampak Dari Perpusnas RI

BLORA. Tetap berprestasi di tengah pandemi, dibuktikan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Blora dengan berhasil menorehkan prestasi tingkat Nasional pada Lomba Video Cerita Dampak Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Tahun 2020.

Dalam lomba yang dilaksanakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dengan tema “Geliat Perpustakaan di Tengah Pandemi Covid-19” ini, video karya Perpustakaan Umum Daerah (Perpusda) yang dikelola DPK Blora berhasil masuk dalam enam video terbaik nasional dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten se Indonesia.

Pengumuman pemenang lomba ini disampaikan secara langsung melalui zoom meeting Perpusnas RI dalam acara Peer Learning Meeting (PLM) 2020 pada Kamis siang (3/12/2020), dan penghargaannya diterima langsung oleh Kepala DPK Blora, Aunur Rofiq, SE, M.Si dalam acara yang sama di Surabaya.

Menurut Aunur Rofiq, SE, M.Si, keenam Kabupaten yang berhasil masuk 6 terbaik nasional ini adalah DPK Kabupaten Enrekang, Boyolali, Majene, Pangandaran, Blora dan Kudus.

“Alhamdulillah, kami bersyukur Blora bisa masuk dalam 6 video terbaik nasional bersama kabupaten lainnya se Indonesia. Prestasi ini sangat membanggakan bagi kami, karena ini lomba yang kami ikuti pertama kali di masa pandemi Covid-19. Semoga prestasi ini bisa memotivasi teman-teman DPK Blora agar terus meningkatkan kualitas pelayanannya kepada masyarakat,” ucap Aunur Rofiq, SE, M.Si.

Sementara itu, Kepala Bidang Perpustakaan, Nugraheni Wahyu Utami, SP, menceritakan bahwa video yang dikirimkan dalam ajang lomba itu diproduksi bersama oleh tim DPK Blora pada pertengahan November lalu.

“Teman-teman membuat video dengan judul “Perpustakaan Blora Terus Melayani di Tengah Pandemi Covid-19”, berisikan kegiakan pelayanan perpustakaan selama pandemi yang kami laksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan,” ucap Nugraheni Wahyu Utam, SP.

Mulai dengan penyediaan alat pengukur suhu tubuh, mewajibkan pemakaian masker, menjaga jarak, hingga menyediakan peralatan cuci tangan pakai sabun. Termasuk pembatasan usia kunjung ke Perpustakaan, yang mana pengunjung hanya diperbolehkan bagi yang berumur 14 tahun ke atas. Dimana pada usia 14 tahun ke atas, kondisi imunitas tubuh mulai stabil dan sudah paham tentang kesehatan.

“Selain itu, video juga berisi tentang kondisi ruang baca yang banyak dimanfaatkan para pelajar dan mahasiswa untuk mengikuti sekolah daring serta kuliah online. Tidak sedikit dari mereka juga mengerjakan tugas penelitian hingga skripsi dan tesis. Pada video tersebut juga kami sertakan kegiatan dampak transformasi berbasis inklusi untuk kesejahteraan sosial. Alhamdulillah ternyata diapresiasi oleh Perpusnas RI,” tambahnya. (Humas DPK Blora)


Info